| Minggu, 05 Juli 2009 |
| Mimpi, Akira dan Stephenie |
Saya memiliki kebiasaan aneh tiap kali bangun tidur: mengingat-ingat mimpi. Nggak ada yang spesial dari "kembang tidur" yang kerap hinggap di istirahat malam saya. Namun saya sepertinya selalu tersangkut dalam pengalaman yang menjengkelkan dengan kata mimpi. Masalahnya satu: saya merasa kesulitan mengingat mimpi-mimpi saya—dengan atau setengah detail. Sama seperti peta dunia, rata-rata pengalaman dalam dunia mimpi selalu sulit saya catat di memori otak saya. Ketika ngobrol bareng, saya selalu jadi orang paling lemah menyampaikan narasi mimpi.
Karenanya, lantas timbul perasaan barangkali ada yang salah dalam diri saya. Atau minimal, ada yang kurang beres dengan ingatan saya. Awalnya saya menduga kalaulah saya satu-satunya orang yang berkarakter demikian. Saya penasaran ingin tahu. Saya buka internet, googling (pada detik ini, saya sadar tengah melakukan salah satu gaya hidup ala "microtrends"-nya Mark. J Penn). Dan ada beberapa maklumat yang saya dapat, yang sedikit banyak membantu menjawab perasaan saya kalau (jangan-jangan) benar ada yang tak beres di ingatan saya.
Dan informasi yang saya peroleh mengatakan kalau dugaan awal saya ternyata salah 100 persen. Satu situs menyebutkan bahwa tidak jarang seseorang mengalami kesulitan untuk mengingat mimpinya—apalagi merunutnya—usai bangun tidur. Sumber lain mengatakan bahwa kondisi gelombang otak sebelum bangun atau REM (Rapid Eye Movement) adalah yang menentukan seseorang bisa tidaknya mengingat mimpinya. Ada 4 tipe REM (Betha, Alpha, Tetha dan Delta). Dan seseorang yang kesusahan mengingat mimpinya usai bangun—berarti saya masuk kategori ini—dikatakan berada pada "kondisi mereka yang bangun pada fase lower betha (betha rendah)". Sumber lain menyebutkan bahwa di antara ragam mimpi ada jenis "mimpi terang" dimana "seseorang sadar kalau dirinya tengah bermimpi".
Kemudian saya lanjutkan googling, mencari tips-tips agar dapat mengingat mimpi dengan jelas. Saya temukan seabreg saran yang kebanyakan susah saya pahami sendiri. Bagi saya mimpi menjadi semacam sebuah dunia yang menyeretku secara tiba-tiba, yang hanya bisa kupahami sepotong-sepotong, lalu saya terpelanting di satu sudutnya, yang tampak di sekeliling hanya kabut dan kabut—seperti ketika Guido Orefice menggendong putranya, Giosué, kembali ke kamp konsentrasi Nazi dalam film Life is Beautiful 1997—dan di akhir mimpi selalu ada suspense yang sangat menarik tapi selalu tak bisa dengan mudah saya ingat.
Jika Anda bertanya kepada saya, "Why so serious? Mengapa mempermasalahkan mimpi yang konon hanya kembang tidur belaka?"
Akan saya jawab, "karena saya iri." Pada siapa? Pada mereka yang bisa dengan baik mengingat mimpi-mimpinya dan dengan intens menyampaikan narasinya. Saya lebih mempercayai bahwa kemampuan mengingat mimpi bukan masuk kategori sebuah bakat. Bagi saya semuanya masuk kategori "ilm muktasab" yang dapat diikhtiari secara sistematis dan gradual. Saya iri sekaligus takjub penuh takdzim ketika almarhum Akira Kurosawa yang sudah bikin film realisme mejik, Dreams tahun 1990 dan Stephenie Meyer yang menulis novel Twilight 2005, yang best seller di Amerika.
Film Dreams (bahasa Jepang: Yume) merupakan antologi dari delapan cerita pendek yang merupakan mimpi aktual Akira, direkturnya sendiri. Di film tersebut, Akira lebih sering bermain dengan imajinasi ketimbang dialog. Mimpi pertamanya bertajuk "Sunshine Through The Rain". Ia bertutur tentang satu legenda kuno Jepang yang bercerita bahwa ketika matahari bersinar pada saat hujan, makhluk rubah (kitsune) tengah menjalankan proses perkawinan. Seorang anak kecil—barangkali di mimpi tersebut Akira Kurosawa adalah anak itu—melawan perintah ibunya untuk tetap diam di rumah. Dari belakang pohon besar dekat hutan, ia mengintip, menyaksikan prosesi lambat acara perkawinan itu. Sayangnya, ia ketahuan oleh salah satu rubah lalu kabur kembali ke rumah. Waktu hendak masuk, ibunya bilang bahwa seekor rubah telah datang ke rumahnya, meninggalkan sebilah pisau tanto. Wanita itu memberikannya pada anaknya. Ia meminta anaknya agar pergi dan minta maaf dari para rubah meskipun mereka dikenal tak akan memaafkan. Di akhir mimpi, anak itu mematuhi kata-kata sang ibu. Ia siap-siap berangkat ke gunung, menuju sebuah tempat dimana ada cahaya pelangi di atasnya untuk mencari rumah kitsune.
Novel Twilight wa akhwatihi juga lahir dari mimpi. Stephenie praktis seorang ibu rumah tangga biasa, yang tak pernah bermimpi menjadi penulis novel. Tapi kejadian mimpi di sebuah malam awal Juni 2003 itu menjadikannya "hot list writer". Mimpi malah itu merupakan benih dari karyanya Twilight dan sekuelnya, yang sudah terjual sebanyak 42 juta kopi di dunia (37 negara). Mimpi malam itu tentang seorang gadis dan vampir yang jatuh cinta kepadanya tapi haus akan darahnya. Novel tersebut menghadirkan karakter Bella yang rapuh, yang hidup dengan sang ayah setelah orang tuanya bercerai dan karakter Edward yang menolak keinginan Bella menjadi vampir seperti dirinya. Berdasarkan mimpi yang begitu nyata itu (dan beberapa bacaan yang mempengaruhinya), ia mulai sulit menghentikan kebiasaan menulisnya, ia kerjakan transkipnya selama 3 bulan dan jadilah novel laris yang bahkan sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Bahkan sempat difilmkan dengan judul yang sama tahun lalu, yang didirekturi oleh Catherine Hardwicke.
Akira dan Stephenie, saya yakin, hanya beberapa. Masih banyak orang yang dapat mengingat mimpi-mimpinya dengan baik dan bisa menarasikannya dengan intens. Konon, Edison mengalami sebuah mimpi sebelum ia menemukan bola lampu. Dan kepada merekalah, saya iri dan takjub penuh takdzim. Jika mereka hadir di mimpi saya suatu saat, saya hanya ingin menanyakan satu hal pada mereka, "Mengapa begitu serius dengan mimpimu?"
Kini saya menciptakan kebiasaan baru yang aneh kedengarannya. Sebelum tidur, setelah memanjatkan doa tidur, saya memohon kepada Tuhan yang Mahakuasa agar dibantu mengingat-ingat segala mimpi saya (baik mimpi basah maupun mimpi kering). Lalu berusaha keras mengingatnya sesudah bangun.
Jum'at, 3 Juli 2009. |
posted by .::yenihayatku::. @ Permalink ¤12:18   |
|
|
| Minggu, 19 April 2009 |
| Cerita Supono |
Supono kangen keluarganya di Tanahair. Karena tak kuat menahan rasa rindu, ia putuskan untuk menelpon mereka. Beberapa jam, ia ngobrol-ngobrol dengan bapak, ibu dan adiknya. Saking kangennya, masalah pemilu kemarin dibawa-bawa Supono di pembicaraan.
Supono: “Pak, kemarin nyontreng apa?” Bapak: “Bapak nyontreng partai A.” Ibu: “Ibu milih partai B karena kemarin dapat duit 10 ribu dari sana.” Adik: “Kalau aku, milih partai C, Kak. Kami bagi rata aja nyontrengnya biar adil.” Supono: “Aku golput Pak.” Bapak: “Lho, gimana sih. Orang kudu milih sebagai usahanya membangun Negara. Kamu ini bagaimana?” Supono: “Gimana mau nyontreng, banyak caleg yang nggak jelas. Nggak tulus dan karena duit doank. Gimana mau mbangun Negara kalau partai-partainya kayak gitu.” Bapak: “Di kabupatenmu, jumlah caleg ada 200. Yang terpilih nggak ada 10 orang. Sisanya banyak yang strees.”
Waktu Supono ceritakan ini ke temannya, ia mendapatkan saran dari kawannya seperti ini.
Teman Supono: “Kok kamu nggk bilang alasanmu Golput..coba kamu bilang, 'karena nama bapak nggak ada di sana, caleg itu nggak pernah kirim aku uang'. Cob jawab gitu, dijamin langsung ditanya begini, ‘Ya udah minta kiriman caleg berapa biji, tuh banyak yang di RSJ.’" Supono: “Orientasiku tadi minta duit. Jadi lupa deh.” |
posted by .::yenihayatku::. @ Permalink ¤02:51   |
|
|
|
|
|
Tentangku
| I wanna be your friend.
View my profile |
| Sampah |
|
| Keranjang Sampah |
|
|
| Kedai Umum |
|
|
| Bala Indo |
|
| Bala Kairo |
|
| Ngangsu Kaweruh |
|
| Terminal Berita |
|
|